Berbagi Artikel Islam

Hidup Itu Bermanfaat

Pemuda jujur dan sebuah apel

Satu lagi cerita inspiratif yang penulis akan bagi kepada oryzaee reader sekalian, kali ini cerita tentang seorang pemuda yang tidak sengaja menemukan apel dan mendapat barokah atas kesabaran dan kejujurannya mencari sesuatu yang toyyib dan halal. Cerita ini ternyata banyak dibagi diinternet tapi satu sama lain saling berbeda dan penulis akan menulis versi berbeda pula karena penulis sangat teringat pada cerita ini yang diceritakan oleh guru SMA dahulu, ternyata memang sangat banyak hikmahnya.

Cerita ini bermula saat ada seorang pemuda bernama Zaid yang melakukan perjalanan jauh terhenti karena rasa capek dan lapar, dia pun menemukan sebuah sungai dan berniat untuk istirahat sebentar sembari melepaskan dahaga ditenggorokannya. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah buah apel matang yang terbawa aliran sungai dan tergeletak didekatnya. Dengan senang hati pemuda itu ambil kemudian dimakanlah apel itu dengan lahab karena Zaid memang tengah lapar. Setelah dimakan, pemuda tadi berhenti menggigit dan berpikir “bukankah apel ini pasti ada pemiliknya? kenapa aku makan begitu saja tanpa tahu buah itu halal atau haram karena ada yang memiliki.Segera Zaid mengikuti aliran sungai tersebut dan mendapat sebuah perkebunan yang memang terdapat buah apelnya, Zaid pun masuk dan menemui seorang yang sedang mengolah kebun itu dan mengatakan bahwa ia telah menemukan apel yang terbawa sungai itu kemudian memakannya. Tukang kebun itu menghalalkannya setengah dari buah yang Zaid makan, dikarenakan beliau sebagai pekerja kebun hanya mendapat upah dari setengah panen dari kebun milik orang lain. Bapak tadi menyuruh Zaid menemui pemilik kebun yang asli untuk menjelaskan apel itu. Setelah di beritahu rumahnya, pemuda itu mendatangi dan mengucap salam

“Assalamu alaikum “, Zaid mengucap salam kepada pemilik rumah.

“Wa alaikum salam..”, keluarlah seorang bapak tua yang memang benar pemilik kebun tersebut.

Zaid dipersilahkan masuk dan menceritakan semua perbuatannya dan bertanya kepada bapak itu

“Berapakah yang harus aku tebus agar engkau ridha akan apel yang telah aku makan tadi?”

bapak itu menjawab

“Aku akan ridha terhadap apel yang kamu makan, namun kamu harus membantuku mengelola perkebunan selama tiga tahun tanpa digaji”

Zaid mulai berpikir, apakah dengan sebuah apel yang ditemukannya tidak sengaja harus ditebus dengan bekerja 3 tahun tanpa digaji. Namun itulah jalan satu-satunya agar bapak itu ridha dan mendapatkan ridha dari Allah juga. Zaid menerima permintaan dari bapak tersebut. Setiap hari zaid bekerja dengan rajin dan khusyu’ pada pekerjaannya, dia tidak memikirkan perbandingan sebuah apel dengan beratnya pekerjaan yang harus dikerjakannya, namun ridha Allah atas barang yang halal lah yang dia pikirkan.

Tak terasa 3 tahun berlalu, pemilik kebun melihat Zaid sebagai pemuda yang rajin, pekerja keras, amanah dan penuh tanggung jawab. Zaid pun datang mengunjungi bapak pemilik kebun dengan tujuan untuk meminta ridha kembali karena telah bekerja 3 tahun lamanya tanpa di gaji. Sesampainya dirumah pemilik kebun zaid menanyakan

“Aku sudah bekerja untuk bapak sampai 3tahun lamanya, apakah bapak sudah ridha apel yang aku makan dahulu?

“Belum”, bapak itu menjawab.

“Kenapa pak? bukankah aku telah bekerja untukmu seperti yang kamu minta?” , Zaid bertanya penuh keheranan.

“Aku akan ridha setelah kamu menerima 1 lagi permintaanku”, kata pemilik kebun.

“Apa itu?”, tanya Zaid.

“Menikahlah engkau dengan putriku” Jawab pemilik kebun.

Zaidpun terkaget sejenak, karena permintaan itu sebelumnya tidak pernah terpikirkan dikepalanya, belum sempat Zaid menjawab, Pemilik kebun itu menambahkan

“Namun putriku buta, bisu, tuli dan lumpuh”

Mendapat gambaran seperti itu Zaid lebih kaget lagi, karena dia tidak sanggup untuk menjawabnya sekarang, pemuda itu meminta waktu untuk memikirkan perihal tersebut dan pemilik kebun membolehkannya. Pemuda itu bingung terhadap kejadian yang menimpanya, dia sering melamun dan memikirkan jalan mana yang sebaiknya di ambil untuk masa depannya. Saat berada didekat perapian di melakukan sesuatu yang merubah hidupnya.

Zaid yang sedang saat itu berdiam diri didekat perapian api berpikir, dengan kondisi putri dari pemilik kebun tersebut yang cacad. Namun dia juga berpikir apabila dia tidak menikahi putri itu, bapak itu tidak ridha dan pasti Allahpun tidak ridha sehingga membuatnya dibalas di api neraka. Tiba-tiba Zaid memasukkan jarinya ke api diperapian itu dan seketika tangannya ditarik kembali “Api dunia saja rasanya sudah sesakit ini, bagaimana api di akhirat sana”. Dengan keteguhan yang telah bulat, Zaid segera menemui pemilik kebun untuk menerima permintaanya.

Segera pernikahan pun dilaksanakan. Setelah ijab kabul sang pemuda itupun masuk kamar pengantin. Dia mengucapkan salam dan betapa kagetnya dia ketika dia mendengar salamnya dibalas dari dalam kamarnya. Seketika itupun dia berlari mencari sang bapak pemilik apel yang sudah menjadi mertuanya.

“Ayahanda…siapakah wanita yang ada didalam kamar pengantinku? Kenapa aku tidak menemukan istriku?”

Bapak itu tersenyum dan menjawab. “Masuklah nak, itu kamarmu dan yang di dalam sana adalah istimu.”

Pemuda itu tampak bingung. “Tapi ayahanda, bukankah istriku buta, tuli tapi kenapa dia bisa mendengar salamku?

Bukankah dia bisu tapi kenapa dia bisa menjawab salamku?”

Bapak itu tersenyum lagi dan menjelaskan. “Ya, memang dia buta, buta dari segala hal yang dilarang Allah. Dia tuli, tuli dari hal-hal yang tidak pantas didengarnya dan dilarang Allah. Dia memang bisu, bisu dari hal yang sifatnya sia-sia dan dilarang Allah, dan dia lumpuh, karena tidak bisa berjalan ke tempat-tempat yang maksiat.”

Subhanallah, indah sekali balasan untuk orang-orang yang mencari ridha Allah meskipun harus ditempuh melewati jalan yang sangat berat 🙂 . Kesabaran seseorang untuk memperoleh kebaikan dibalas oleh Sang Pencipta dengan kenikmatan yang berlipat ganda baik didunia dan diakhirat kelak. Semoga kita termasuk orang yang dapat mengambil pelajaran dari orang lain 🙂

Best Regard

Oryzaee

Categories: Cerita Inspiratif
benar cerita ini memang sudah saya baca semenjak masih sma, dan sangat menggugah kita untuk berhati-hati dalam menentukan halal dan haram
15 May 12 at 18:39