Berbagi Artikel Islam

Hidup Itu Bermanfaat

Kisah Nabi Musa AS dengan seorang pezina

Tahukah kamu bahwa membunuh, zina, durhaka kepada orang tua, makan makanan yang haram, riba dan lain-lainnya adalah dosa besar yang telah di peringatkan keras oleh Allah dan Rasul kita. Namun tahukah kamu dosa apa yang paling besar? istilahnya the biggest sins yang paling dimurkai oleh Allah SWT. Berikut adalah suatu kisah yang terjadi pada jaman Nabi Musa AS saat beliau mendapat seorang tamu wanita nan ayu yang mengakui semua dosa-dosa berat yang telah ia lakukan.

Pada suatu senja yang lenggang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam dukacita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tanpa hias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah merusak hidupnya.

Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s. Diketuknya pintu pelan- pelan sambil mengucapkan uluk salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam “Silakan masuk”.  Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus
merunduk. Air matanya berderai tatkala ia Berkata,

“Wahai Nabi Allah.Tolonglah saya. Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya.”
“Apakah dosamu wahai wanita ayu?” tanya Nabi Musa a.s. terkejut.
“Saya takut mengatakannya.”jawab wanita cantik.

“Katakanlah jangan ragu-ragu!” desak Nabi Musa.

Maka perempuan itu pun terpatah-patah bercerita, “Saya… telah berzina.

“Kepala Nabi Musa terangkat,hatinya tersentak.

Perempuan itu meneruskan, “Dari perzinaan itu saya pun…lantas hamil. Setelah anak itu lahir,langsung saya… cekik lehernya sampai… tewas,” ucap wanita itu seraya menangis sejadi-jadinya.

Nabi Musa berapi-api matanya. Dengan muka berang ia menghardik, “Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!”… teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata karena jijik.

Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk keluar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan.Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan ia tak tahu mau dibawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa.

Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya,

“Mengapa engkau menolak seorangwanita yang hendak bertaubat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar dari padanya?”
Nabi Musa terperanjat.

“Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?”

Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril.

“Betulkah ada dosa yang lebih besar daripada perempuan yang nista itu?”

“Ada!” jawab Jibril dengan tegas.

“Dosa apakah itu?” tanya Musa kian penasaran.

Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina”

Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusu’ untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut. Nabi Musa menyadari, orang yg meninggalkan sembahyang dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sembahyang itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya. Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olahmenganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya.

Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman di dadanya dan yakin bahwa Allahitu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya. (Dikutip dari buku 30 kisah teladan – KH Abdurrahman Arroisy)

Kesimpulan

Apa yang dapat kita ambil dari kisah Nabi Musa di atas? apakah kita dapat melakukan pembunuhan, zina dan dosa-dosa besar lainnya karena dosa terbesar bukan dari perbuatan itu? sangatlah bukan, Allah dan Rasul kita sudah mengingatkan akan dosa-dosa besar yang paling Allah benci yang nantinya akan diberikan balasannya yang tidak kecil bahkan sangat pedih. Namun kenapa Allah sangat membenci kita yang tidak shalat dan tidak menyesal akan hal itu? karena shalat adalah kewajiban paling pokok seorang muslim yang masih diberikan kesempatan hidup di dunia ini. Semisal kita dengan teman kita berbuat salah, maka kita harus segera minta maaf pada teman kita akan dia merasa kita adalah sahabat yang baik, namun saat kita berbuat salah tapi tetap “nyantai” dengan expresi tidak bersalah kita sedang kita tau itu menyakiti hatinya, maka teman kita akan sangat kesal. Begitupula dengan Allah, shalat yang hanya =-5menit kali 5 dalam sehari kita ogah-ogahan, kalaupun shalat sangat cepat sampai seperti ayam mematuk makanan.

Untuk itu, mari kita sama-sama berubah, belajar dari hal-hal wajib mumpung masih diberi umur, diberi kesempatan hidup, semoga tulisan diatas menggugah jiwa kita semua. Semoga Bermanfaat 🙂

Best Regard
Oryzaee

Reference :

dakwah.net

Categories: Islamology